Surabaya, Krisanonline.com – Krisanis, Dr. Ignatius Wibowo SJ adalah seorang cendekiawan, pendidik, rohaniwan yang lahir di Ambarawa, pada tanggal 2 Agustus 1952 dan wafat pada tanggal 7 November 2010. Romo Bowo adalah salah satu sosok yang memberikan banyak kontribusi bagi tanah air, Indonesia. Romo Bowo adalah salah satu ahli Tiongkok yang ada di Indonesia. Romo Bowo pun sangat menguasai sejarah, filsafat, kondisi sosial, politik, dan ekonomi di Cina.

Romo Bowo dikenal sebagai sosok yang terbuka, sangat jauh dari sifat konvensional yang biasanya ditunjukkan oleh para cendekiawan pada umumnya. Romo Bowo pun memiliki karakter yang outward – looking, perkembangan situasi di luar lingkungan membuat beliau menjadi cendekiawan yang aktif. Romo Bowo juga mempunyai karakter fundamentum. Romo Bowo mempelajari segala hal yang tetap berlandaskan atas keimanan tersebut untuk memenuhi berbagai rencana Tuhan dan menjadi bagian-Nya dalam bentuk perhatian dan pencerahan pada masyarakat melalui karya tulisnya mengenai hubungan antara negara Cina dan Indonesia. Romo Bowo pun dikenal sebagai pastor Jesuit yang handal, beliau melayani sesama berdasarkan atas iman yang mendalam akan Tuhan dan kasih-Nya

Kedua, karakter Romo Bowo dapat kita terapkan dalam menghadapi situasi saat ini. Pandemi COVID – 19 merupakan pandemi baru dan tak terduga yang mulai ada di Indonesia sejak bulan Maret tahun 2020. Jumlah kasus positif virus corona yang semakin meningkat dan naik tiap harinya memberi perubahan yang besar dalam setiap sektor kehidupan masyarakat. Pada situasi seperti ini tiap manusia hanya bisa memegang prinsip “Yang bisa beradaptasi tentu bisa bertahan”. Situasi yang mendadak terjadi tanpa dapat diprediksi sebelumnya membuat kita terpaksa harus sejalan dengan keadaan dan tidak semua orang bisa survive dalam situasi seperti ini.

Salah satu permasalahan selama pandemi yang hampir dialami oleh seluruh lapisan masyarakat adalah permasalahan dalam sektor ekonomi. Para pekerja diharuskan untuk bekerja di rumah demi keamanan nasional, lalu bagaimana nasib mereka yang pekerjaannya tidak bisa dilakukan di rumah?

Dalam situasi seperti ini kita perlu menerapkan prinsip berpikir Romo Bowo yaitu outward – looking , dimana pikiran kita memposisikan pikiran kita untuk bergerak mengarah ke luar, tidak hanya terjun ke arah dalam saja. Kehadiran virus ini, membuat hampir semua orang mengeluh, bahkan selalu beranggapan bahwa dengan adanya situasi seperti ini tidak ada yang bisa dilakukan, semua serba terbatas. Boundaries inilah yang sebenarnya kita ciptakan sendiri di dalam diri kita, padahal jika kita membawa diri kita pada pikiran yang positif. Ada saja peluang yang dapat ciptakan di tengah situasi seperti ini. Bertahan di zona nyaman, seringkali membuat kita sulit untuk ditempatkan dalam situasi dan metode yang berbeda. Dengan adanya perubahan dan pergantian metode dalam menjalani hidup membuat kita menjadi pribadi yang tangguh, yang mampu beradaptasi, dan memunculkan ide – ide baru yang mungkin tidak kita dapatkan jika pandemi ini tidak terjadi.

Prinsip fundamentum juga dapat kita terapkan, yang berarti meletakkan suatu hal sebagai pedoman atau kunci yang selalu kita bawa selama hidup ini. Lagi – lagi kita belajar dari Romo Bowo, yang meletakkan iman sebagai landasan hidupnya, dan beliau memang sangat meyakini dan percaya akan hal tersebut. Di dalam hidup ini semua yang terjadi, semua yang kita hadapi merupakan rencana Tuhan semata. Kehadiran Tuhan untuk menyertai tiap langkah hidup kita sangat kita perlukan, karena meskipun kita ada dalam situasi terburuk sekalipun, Tuhan tetap ada dan Tuhan tetap menjamah kita sebagai anak-Nya.

(Kontributor: Gabriella Patricia Ruswir, Mahasiswi Semester I, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga, Surabaya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here