Surabaya, Krisanonline.com– Krisanis, moodle adalah sistem manajemen pembelajaran yang berupa web-based. Moodle sudah ada dan dikembangkan sejak tahun 1970, akan tetapi baru dirilis secara resmi pada tahun 2002 dan tokoh yang paling berjasa di balik itu semua adalah Martin Dougiamas. Moodle menjadi pilihan solusi terbaik dalam pembelajaran daring karena bersifat open source dan bisa digunakan secara gratis.

Seiring berjalannya waktu, Moodle menjadi salah satu platform terdepan dan paling efektif dalam kegiatan pembelajaran secara daring khususnya pada masa pandemi ini. Pustakawan menangkap ini sebagai peluang ketika perpustakaan bisa menyapa siswa secara interaktif dengan platform tersebut. Agar misi perpustakaan untuk menyebarkan “virus” membaca kepada siswa bisa tetap terus berjalan, maka perlu adanya kolaborasi antara semua pihak di sekolah diantaranya adalah admin/IT, guru, pustakawan, dan para siswa serta pihak-pihak terkait. Perpustakaan memanfaatkan Moodle untuk kursus atau kelas literasi.

Melalui kelas tersebut kegiatan literasi bisa terus berjalan secara terukur dan terencana. Moodle memungkinkan kita untuk membuat link dengan platform lain dan dalam hal ini penulis menggunakan Google Drive, Youtube, Instagram, facebook. dan lain-lain.

Pada kursus atau kelas literasi yang telah di buat di Moodle, penulis memanfaatkan Google Drive sebagai media penyimpanan E-Book, formulir, dan materi lainnya. E-Book tersebut dapat didapatkan secara gratis melalui situs-situs pemerintah maupun para donatur serta jaringan Kerjasama.

Pada kelas literasi yang terdapat di Moodle memungkinkan perpustakaan melampirkan koleksi E-Book yang ada di Google Drive untuk dijadikan bahan bacaan siswa pada waktu jam literasi, tentunya dengan mengisi absensi terlebih dahulu sehingga kegiatan menjadi terkontrol dan ini akan mempermudah pustakawan untuk mengukur tingkat literasi siswa di suatu sekolah.

Pada kelas literasi yang terdapat di Moodle memungkinkan perpustakaan melampirkan koleksi E-Book yang ada di Google Drive untuk dijadikan bahan bacaan siswa pada waktu jam literasi. Tentunya dengan mengisi absensi terlebih dahulu, sehingga kegiatan menjadi terkontrol dan ini akan mempermudah pustakawan untuk mengukur tingkat literasi siswa di suatu sekolah.

Selain apa yang telah dipaparkan di atas, Moodle juga menawarkan beberapa fasilitas tambahan untuk menambahkan aktivitas dan sumber materi yang cukup lengkap diantaranya adalah: forum, chat, quiz, workshop, survey, interactive game, assignment, attendance, dan masih banyak lainnya serta mendukung sumber materi dalam berbagai format seperti; doc, pdf, png, jpg, gif, ppt, mp4, dan lain-lain.

Dengan Moodle, maka kegiatan interaksi antara perpustakaan dengan siswa dapat diwujudkan, selebihnya tergantung kreativitas masing-masing pustakawan untuk membuat tampilan kelas literasi di Moodle menjadi lebih menarik. Moodle dan Google Drive memang bukanlah cara satu-satunya, tetapi paling tidak kita bisa menularkan virus membaca melalui platform tersebut. Kita jangan memandang kesulitan dan masalah sebagai keterbatasan melainkan kita pandang sebagai kesempatan untuk menciptakan peluang baru. Melalui “vaksin” Google Drive dan Moodle kita lawan Covid-19 dan kita tebarkan kepada anak-anak sejak dini “virus” membaca. Salam literasi!

(Kontributor:  Yosua Danang Wijoyo, S.Sos., Pustakawan SMA Santa Maria Surabaya)

 

Gambar: www.google.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here