Surabaya, Krisanonline.com – Krisanis, Bapak Igantius Joseph Kasiomo Hendrowahyo yang dikenal dengan nama Bapak I.J Kasimo, lahir di Yogyakarta pada tanggal 10 April 1990. Bapak I.J Kasimo merupakan salah satu tokoh katolik  dalam memperjuangkan kesejahteraan rakyat Indonesia saat zaman Kolonial Belanda karena pada saat itu terdapat banyak krisis yang terjadi sehingga membuat masyarakat Indonesia tidak bisa memperjuangkan keadilan dalam menyejahterahkan hidupnya. Salah satu  bukti nyata yang dilakukan oleh Bapak I.J Kasimo ini yaitu Ia merasa gelisah dan khawatur mengenai sistem sewa tanah  untuk penanaman tebu di era kolonial dimana Beliau menganggap bahwa sistem tersbut hanyalah memberikan kerugian untuk masyarakat Indonesia, dan saat itulah Ia tergerak untuk memperjuangkan keadilan rakyat Indonesia

Bapak I.J Kasimo memiliki watak yang tegas, jujur, konsisten, serta berani membela kaum kecil dalam penindasan, Di dalam hidupnya Ia habiskan untuk menjujung kesejahteraan rakyat Indonesia, Beliau sangat suka menolong rakyat kecil tanpa memandang latar belakang seseorang. Dengan perjuangannya tersebut dalam menjujung tinggi keadilan guna untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat Indonesia, Bapak I.J Kasimo mendapatkan penghargaan dari Paus Yohanes Paulus II. Beliau mendapatkan penghargaan Bintang Ordo Gregorius Agung sertra diangkat menjadi Kesatria Komandator Golongan Sipil dari Odo Gregorius Agung serta beliau juga diangkat menjadi pahlawan nasional karena sikapnya yang mengutamakan keadilan.

Banyak pemikirian yang disampaikan oleh bapak Iganitius Joseph Kasimo yaitu pemikirannya terhadap dunia politik,Umat Katolik di Indonesia dan pemikirannya terhadap keberagaman yang ada di Indonesia, dalam pemikiran bapak I.J Kasimo tersebut,  Beliau merupakan seorang politikus yang berkepribadian dimana beliau sangat mengutamakan kepentingan orang banyak dibandingkan pribadinya sendiri. Ia juga  memberikan kerekatan hubungan sesuai dengan ajaran katolik dengan perjuangannya guna untuk mengembangkan rasa nasionalisme Bapak Jokowi Widodo pernah menyampaikan kepada masyarakat bahwa kita seharusnya bisa meneladani sikap dari Bapak I.J.Kasimo karena Beliau sangatlah menjujung tinggi keadilan dan toleransi, karena pada dasarnya perbedaan agama bukan menjadi alasan untuk kita semua bahwa kita tidak bisa hidup dengan toleransi, tetapi kita harus bisa hidup dalam perbedaan yang ada, saling menghargai, hidup rukun dan berdampingan  (Widodo, 2019).

Dari kisah perjalanan bapak I.J Kasimo  pengingat untuk kita semua pada situasi saat ini yaitu kita harus bisa hidup berdampingan walaupun banyak perbedaan yang ada di sekitar kita yaitu hidup dalam persatuan. Sebagaimana kita ketahui bahwa dasar negara Indonesia yaitu Pancasila yang menjadi dasar hidup kita sebagai warga negara Indonesia serta Pancasila dapat diwujudkam sebagai lambang persahabatan yang bisa kita realisasikan dalam kehidupan kita. Kita harus mampu menjaga kebersamaan dan persatuan diantara perbedaan yang ada. Serta menjadikan pengingat untuk kaum generasi milinial untuk selalu menikmati dan menghargai atas perubahan dalam kehidupan dan selalu lakukan perubahan kecil ke arah yang lebih baik, sekecil apapun perubahan yang anda lakukan asalkan perubahan tersebut mengarahkan ke arah yang lebih baik pastinya akan membantu kehidupan anda untuk menjadi sosok yang lebih baik. Dengan usaha yang tulus akan membuat sebuah perubahan yang besar pada kehidupan Anda dibandingkan tidak melakukan perubahan sama sekali. Ingat bahwa sekecil apapun tindakan yang membuat kehidupan Anda semakin positif akan membawa dampak besar di masa depan.

Beliau  akan  selalu dikenang oleh masyarakat Indonesia atas jasa-jasanya serta teladannya dalam membela keadilan di Indonesia. Berpolitik berprinsip dan bermartabat merupakan pesan dalam Ide bapak I.J Kasimo dalam latar belakang berbangsa dan bernegara. Hingga sekarang beliau dianggap sebagai tokoh yang memegang teguh etika dan moralitas dalam dunia politik pada saat itu.

(Kontributor: Theresia Yubel R.P.N, Mahasiswi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Airlangga Surabaya)

 

 

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here