Surabaya, Krisanonline.com– Krisanis, saat kita mengunjungi wisata alam, pasti aka nada pengalaman baru dan menantang yang menjadi kepuasan tersendiri. Terlebih mendaki di Gunung Ijen, yang merupakan kawasan Pegunungan di perbatasan kota Banyuwangi dan Bondowoso.

Di Kawah Ijen ada dua gunung yang memiliki blue fire, dan salah satunya berada di Banyuwangi. Bahkan, Kawah Ijen merupakan kawah asam terbesar di dunia. Saya sangat bersemangat karena sudah mendambakan liburan berpetualang di alam.

Subuh tepat pukul 01.15 WIB saya mulai berjalan, berusaha mencapai puncak tertinggi Gunung Ijen yang indah sekaligus mistis. Perjalanan yang ditempuh untuk mencapai kawah sekitar 5 Km lebih. Jadi, bolak-balik total 10 Km. Sangat melelahkan terlebih jalannya menanjak terus dan udara malam yang dingin membuat setiap orang berusaha bertahan dengan tenaga yang tersisa. Apalagi, kalau kita tidak pernah berolahraga, pasti sangat lelah dan bisa kram.

Namun, warga sekitar sangat pandai memanfaatkan momen kelelahan itu. Mereka menawarkan “taksi” seperti gerobak yang ditarik dengan tenaga manusia. Mereka berulang kali menawarkan pada pengunjung baik lokal maupun dari mancanegara. “Taksi..taksi.. masih jauh lho jalannya..” ujar para pekerja “taksi” dengan suara yang keras. Tarifnya hingga ke puncak gunung berkisar Rp 500.000 – 600.000. Cukup mahal memang, tapi jika sudah sampai puncak, Anda tidak akan mengatakan mahal. Sebab pekerjaan “taksi”itu sangat menguras tenaga dan butuh ketahanan fisik yang lebih. Sungguh menjadi pengalaman berharga bagi saya bisa melihat “pekerjaan ekstrem” mereka di Gunung Ijen.

Bayangkan penumpang duduk dengan santai dan ditarik hanya oleh 1-2 orang dengan sekuat tenaga. Saya merasa pekerjaan mereka sangat berat dan keras. Naik turun gunung membawa penumpang. Namun, dibalik semua itu ada semangat hidup yang tinggi dalam diri setiap penarik taksi. Tak peduli seberapa banyak keterbatasannya.
Melalui pengalaman baru tersebut, maka beberapa kebiasaan yang akan menjadi resolusi saya di tahun 2020 adalah olahraga rutin, belajar dengan semangat, dan membaca buku baru. Dari semuanya yang telah saya paparkan, yang terpenting adalah saya dapat menerapkan nilai-nilai dan sikap empati, peduli, dan menginspirasi banyak orang.

(Kontributor: Melisa Pranata, Alumni SMA Santa Maria Surabaya, Jurusan IPS)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here