Surabaya, KrisanOnline. com – Krisanis, di sini saya ingin sedikit sharing  tentang pengalaman dalam hal pelayanan di gereja. Tepatnya saat saya telah menerima Sakramen Ekaristi atau yang biasa disebut Komuni Pertama. Setelah beberapa hari menerima komuni pertama, saya kembali ke gereja untuk mengambil sertifikat komuni. Waktu itu, saya berjalan menuju sekretariat gereja. Tiba-tiba ada seseorang kakak berumur kira-kira 20 tahunan datang dan mengajak saya bicara. Kakak: “ Kamu habis komuni pertama, kan ?” Saya menjawab : “ Iya kak, barusan kemarin di hari Minggu.”

Setelah itu, kakak tersebut mengeluarkan formulir dan memberikannya ke saya. Kemudian berkata: “Yuk, gabung jadi misdinar di RM (Redemptor Mundi). Kita membuka pendaftaran anggota baru. Pertemuan setiap hari Minggu jam 12.00 Wib, di Balai Paroki.

 “Dengan polosnya aku menjawab: “ Iya, kak saya besok Minggu akan datang.” Kala itu aku masih bingung apa sih misdinar itu. Meskipun kata misdinar sebenarnya sudah sering saya dengar.

Di hari-H tepatnya hari Minggu, saya pun datang ke dalam pertemuan misdinar  dan menyerahkan formulir pendaftaran. Setelah mengikuti pertemuan, saya dan teman-teman diwawancarai seputar mengapa tertarik ingin menjadi misdinar. Pada saat itu saya sendiri menjawab, “ingin melayani Tuhan Yesus .“  Kakak tersebut hanya tersenyum.  Selepas itu kami mendapat beberapa materi tambahan tentang apa itu misdinar, apa saja tugas misdinar, apa kegunaan alat-alat misa, dan kita langsung ditugaskan sebagai misdinar selama 1 minggu. Hingga akhirnya, kami resmi menjadi misdinar.

Krisanis, dari hal tersebut, saya mendapat banyak pengalaman yang mengubah hidup. Dari awal hingga menjadi misdinar selama kurang lebih 9 tahun ini, saya sadar bahwa kita hidup di dunia ini untuk saling melayani satu dengan yang lain.  Bagi saya  menjadi misdinar merupakan sarana untuk saling melayani, terkhusus melayani Tuhan. Di misdinar pula kita diajarkan untuk melayani dengan ikhlas, sepenuh hati, sabar, dan selalu berkarya untuk Tuhan serta sesama.

Tak hanya itu, saya juga sadar bahwa menjadi misdinar itu bukan hanya sebagai tugas pelayanan semata, melainkan juga menjadi bagian dari sebuah “keluarga.”  Pada saat itu saya mungkin belum menyadari bahwa misdinar itu bukan hanya tugas, melainkan juga sebuah keluarga. Ya, sebuah keluarga  yang selalu menerima dalam segala suasana. Suka maupun duka. Menjadi misdinar artinya pula mengajarkan berbagai pengalaman berharga dan berkesan.  Selalu siap melayani di setiap saat  merupakan sebuah karunia dari Tuhan. Tentu saja hal ini menjadi pengalaman berharga yang tidak pernah terlupakan. Sebab, dengan menjadi misdinar, saya dapat lebih mengerti arti dari sebuah pelayanan dan juga arti dari sebuah keluarga. Ini semua menjadikan hidup lebih indah dan berwarna. Terima kasih, Tuhan!

 (Kontributor: Eduardus Steven Hanakin, Alumni XII IPA 1, SMA Santa Maria Surabaya)

BAGIKAN
Berita sebelumyaBukan Hanya Sajak
Berita berikutnyaMelewati Kerikil …

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here