Surabaya, Krisanonline.com – Perbedaan itu sebuah keniscayaan. Dan perbedaan itu timbul dari Sang pencipta. Lalu, apa yang bisa dilakukan oleh para pelajar di SMA Santa Maria Surabaya? Di lereng Gunung Kelud jawabannya.

“Orangtua” baru selama pendidikan karakter live in yang diselenggarakan oleh SMA Santa Maria (4-8 November 2019)  tentu sangat berbeda dengan orangtua saya di kota Surabaya. Bapak dan Ibu Gianto namanya. Mereka adalah orangtua di desa yang mengajarkan banyak hal yang tidak bisa saya dapatkan di kota.

Rumah orangtua saya terletak di Slorok, Blitar, daerah yang mayoritas warganya beragama Katolik. Bapak dan Ibu Gianto memiliki dua anak, perempuan dan laki-laki. Untuk menghidupi kedua anaknya hingga dewasa, mereka sangat bergantung pada usaha kecil-kecilan di belakang rumah yaitu ternak jangkrik, ternak ayam, sanggar seni jaranan, dan Ibu bekerja sebagai guru di TK Tunas Harapan. Sekilas, kehidupan sehari-hari mereka tampak sederhana dan santai namun ternyata mereka berkontribusi untuk pembangunan manusia di Blitar lewat pekerjaan mereka.

Setiap hari rutinitas di rumah ini adalah memberi makan dan minum jangkrik, membereskan rumah, mencuci piring, merawat ternak, dan di malam hari mengurus seni jaranan serta santai sambil nonton TV dan mengobrol bersama. Rutinitasnya sungguh jauh dari kata sibuk. Berbeda dengan rutinitas di kota yang penuh tekanan dan serba cepat. Namun dengan kehidupan yang mengalir dan terkesan santai justru di situ kita dapat memaknai setiap kejadian. Keguyuban antartetangga amat terasa, sebab mereka tidak disibukan dengan berbagai kepentingan yang menyita banyak waktu. Kontras dengan kota. “Kalo mampir yo harus makan, minimal minum teh manis. Nggak boleh ditolak,” ujar Mas Yono, tetangga depan rumah keluarga Gianto.

Lereng Gunung Kelud

Pagi hari pukul 07.00 WIB Ibu sudah siap untuk berangkat ke lereng Gunung Kelud, tempat ia bekerja yaitu di TK Tunas Harapan. Walaupun sudah berusia 50 tahun, semangatnya untuk mendidik anak-anak masih sangat besar. Ia mendidik dengan sabar, penuh suka cita dan yang paling penting adalah toleransi yang tinggi.

Di TK tersebut, Kepala Sekolahnya adalah seorang muslim dan mayoritas muridnya juga muslim. “Ayo foto sek,dari SMA Surabaya iki,” kata Kepala TK Tunas Harapan, Blitar saat saya ikut Ibu bekerja. Kehebatan Ibu Gianto terlihat dari interaksinya dengan umat beragama lain. Ia sangat menghargai adanya perbedaan dan tetap menjalankan perannya demi kecerdasan anak-anak. Meski Ibu Gianto beragama Katolik, ia mengajar muridnya dengan doa secara Islam sebab di daerah itu mayoritas beragama Islam.

Dalam kesehariannya, Ibu Gianto tidak terlalu banyak bicara tetapi perilakunya menunjukkan perhatian dan kasih sayang pada sesama. Perbedaan agama tidak menghalangi untuk menjadi guru yang berkontribusi membangun dari daerah pelosok. Memang kualitas pendidikan dan fasilitasnya tidak sebaik di kota. Namun murid-muridnya memiliki semangat yang tinggi, setinggi Gunung Kelud yang tampak megah dari ruang kelas yang gelap, berdebu dan kecil. (Melisa Pranata)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here