Surabaya, Krisanonline.com – Krisanis, novel Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (Gema Insani, 2017; 256 halaman) mengangkat sebuah peristiwa tentang terjadinya kecelakaan yang dialami kapal Van Der Wijck, yang mengakibatkan kapal tersebut tenggelam. Peristiwa itu terjadi tepat pada tanggal 21 Oktober 1936. Peristiwa tersebut dituangkan oleh Hamka menjadi nama judul novel ini. Serta menjadikan peristiwa tenggelamnya kapal Van Der Wijck, menjadi senjata pamungkas yang menutup kisah cinta Zainudin dan Hayati. Dengan tenggelamnya kapal Van Der Wijck, seakan menenggelamkan kisah romansa mereka berdua yang mengharu biru. Hamka (Haji Abdul Malik Karim Amrullah) yang lahir pada tahun 1908 dan meninggal pada tahun 1981, sekaligus merupakan putra dari Haji Abdul Karim Amrullah seorang ulama pembaharu Islam yang terkemuka di Sumatra Barat. Beliau terlahir dari suku Minangkabau, yang juga hidup di zaman saat aturan adat istiadat seolah mengatur segala perilaku manusia. Meskipun beliau hanya bersekolah sampai kelas II Sekolah Dasar saja, namun beliau mendapat pendidikan agama dan Bahasa Arab yang luas dan dari ayahnya. Buku pertama yang beliau terbitkan adalah “Di Bawah Lindungan Ka’bah”.

Buku yang telah difilmkan ini menceritakan kisah romansa yang berlatarkan tahun 1930-an tentang seorang laki-laki bernama Zainuddin yang merupakan seorang pemuda berdarah campuran Minang dan Bugis. Ia pergi kembali ke tanah kelahirannya di Mengkasar yang juga kampung halaman ayahnya. Ia mengharapkan ketika ia datang ke Mengkasar mendapatkan sambutan baik dari keluarga ayahnya. Nyatanya, ia hanya dianggap orang asing. Bertemulah ia dengan Hayati–seorang gadis keturunan bangsawan yang rupawan. Di tengah perjalanan asmara mereka, ia harus menerima pahitnya penolakan dari keluarga Hayati dikarenakan perbedaan strata sosial yang membentang di antara mereka. Meski Zainuddin memiliki darah Minang, ia ditolak oleh keluarga Hayati karena tidak murni berdarah Minang. Akhirnya, Hayati pun menikah dengan Aziz yang merupakan seorang pemuda asli Minang dan dipandang keturunan terhormat, beradat berlembaga, dan kaya. Namun, sifatnya tidak mencerminkan citranya. Zainuddin pun jatuh sakit. Setiap hari, ia selalu memanggil nama Hayati. Hayati pun menjenguk Zainuddin dan dalam sekejap, Zainuddin pun sembuh. Setelah sembuh dari sakit, Zainuddin mulai bangkit untuk melupakan Hayati. Lalu, ia pergi ke Pulau Jawa bersama sahabatnya untuk meraih kesuksesan dan membalas dendam akan sakit hatinya.

Buku ini menarik bagi saya karena memberikan pandangan baru lewat keberhasilan Hamka dalam mengangkat isu tentang aturan adat istiadat yang berjalan turun temurun. Aturan itu seakan menjadi belenggu bagi setiap masyarakat adat untuk menuruti aturan tersebut. Hamka pula pada bukunya menuliskan sebuah kritik sosial mengenai mengenai kemiskinan, adat istiadat (halaman 59), sikap stereotip masyarakat, kawin paksa, dan materialisme secara tersirat (halaman 5). Beliau menciptakan sosok Zainuddin yang seakan menjadi perwujudan seorang anak dari kedua orang tua yang menikah meski berbeda suku yang seolah melanggar aturan suku Minang dan Bugis. Sebagai konsekuensinya, Hamka menggambarkan respon masyarakat yang memperlakukan Zainuddin dengan tidak baik lewat penolakan yang diterimanya baik dari Suku Minang maupun Bugis (halaman 62). Lewat buku ini, banyak sekali nilai-nilai yang dapat diambil oleh para pembaca agar tidak melanjutkan hal-hal yang dikritik oleh beliau. Catatan kaki yang disediakan juga cukup membantu untuk membuat pembaca mengerti mengenai Minang, seperti “Parewa” dan “orang siak” (halaman 3, 114, dan 136). Banyaknya majas dan perumpamaan yang dipakai membuat novel ini semakin berbobot, tetapi juga membuat pembaca bingung apalagi untuk pemula (halaman 2). Juga, penjelasan latar tempat ini terlalu panjang, banyak pula kalimat yang bertele-tele, dan pemborosan kata sehingga membuat bosan pada awal-awal (halaman 1-2). Ditambah lagi dengan peribahasa-peribahasa yang tidak umum ada di dalam buku ini yang membuat tidak fokus untuk membaca buku ini (halaman 5 dan 113). Adanya kalimat yang digunakan dalam buku ini juga sulit dimengerti arti dan konteksnya seperti“hereng dengan gendeng, ribut nan mendingin, renggas nan melanting, dikaji adat dan lembaga, yang tidak lapuk dihujan, nan tidak lekang dipanas, jalan raya titian batu, nan sebaris tidak hilang nan sehuruf tidak lupa” (halaman 121). Surat menyurat antara Zainuddin dan Hayati ini juga sangat panjang sehingga membuat saya kurang bisa menghayati perihnya Zainuddin ketika ditinggal menikah (halaman 142-154).

Meski ada ketidaknyamanan ketika membaca buku ini, secara keseluruhan saya tetap merekomendasikan para pembaca lain untuk membaca buku ini karena tidak hanya mengenai kisah cinta yang menyayat hati. Tetapi, dibalik itu semua terdapat banyak nilai yang penting untuk kita ambil hikmahnya, seperti meski terpuruk, kita semua bisa bangkit lagi dan meraih kesuksesan yang kita inginkan seperti halnya yang dialami oleh Zainuddin. Lalu, nilai yang sangat melekat dalam pikiran saya seusai membaca buku ini adalah sebuah kenyataan hidup, bahwa manusia hanya dapat berencana tetapi pada akhirnya Tuhan lah yang menentukannya.

(Kontributor: Kezia Widjaja Kusuma, Siswi XII IPS 3, SMA Santa Maria Surabaya)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here