Surabaya, Krisanonline.com -Krisanis, pada saat siswa SMA Santa Maria telah menyelesaikan semua bebannya, yaitu ujian-ujian akhir, saya bingung ingin pulang kampung atau tidak karena keluarga saya sangat sibuk dengan keperluannya masing-masing. Namun, teman saya yang bernama Eileen yang sering dipanggil dengan sebutan Nona itu, mengabari via Whatsapp di grup. Nona mengajak untuk ikut sebuah retret rohani Katolik. Sebelumnya saya masih agak ragu karena saya sendiri beragama Kristen.

Lalu, Nona meyakinkan kita semua “udahlah, ngga bakal serem kok, inikan kita juga cari pengalaman baru. Meskipun kita nggak pergi pulang kampung, setidaknya kita dapat pelajaran menarik di retret itu.” Kata nona di Whatsapp. Setalah saya berpikir matang, akhirnya saya izin dulu ke orang tua dan orangtua ternyata juga menyetujui dan mendukung. 

Setelah kita mendaftar, kita menunggu untuk persiapan pemberangkatan. Saat tibanya  berangkat, saya dan teman-teman merasa takut karena kita tidak saling kenal dengan orang-orang dan merasa asing. Di tempat retret, Trawas. Kita diminta untuk melihat kamar yang telah dibagi dan yang paling menyenangkan adalah saya bisa sekamar dengan teman segrup saya sendiri.

Tempatnya nyaman dan bersih. Teman-teman saya sangat senang. Lalu, kita dipanggil untuk berkumpul di aula. Pada saat berjalan menuju aula dan ingin duduk, ada kakak pembina yang bicara kepada saya, “Lho…kamu itu anaknya Pak Jalu, ya?” katanya dengan bersemangat. “lho-lho kok tahu?” kata saya kebingungan. Ternyata di retret ini banyak  dari alumni SMA Santa Maria Surabaya. Sanmar di luar kota pun juga ada. Di saat itu saya merasa tidak asing lagi karena sudah dikenali. 

Hari ke-2, semua orang diminta bangun Pk. 05.00 Wib  untuk berkumpul di lapangan dan sudah siap untuk hiking dengan memakai sepatu, baju olahraga, tas ransel, botol minum, dan peralatan pribadi untuk naik gunung. Di perjalanan, saya sangat bersemangat karena saya adalah orang yang suka hiking seperti naik gunung. Saya sangat berharap akan bertemu dengan air terjun yang sejuk dan bisa berfoto-foto.

Namun, dugaan saya salah. Kita hanya naik sedikit, tetapi tidak sampai ke puncak. Awalnya, saya kecewa dan sudah tidak mood untuk melakukan kegiatan itu. Namun, kakak pembina memutar musik dan bernyanyi pujian bersama. Saya melihat banyak  orang yang bernyanyi dan bersuka cita. Saya bingung, mengapa mereka begitu ceria sedangkan saya  tidak. Tetapi, ada satu kakak pembina yang sedang memimpin kegiatan bicara demikian, “Teman-teman yang terkasih, saya paham mungkin di antara kalian ada yang masih lemas dan mengantuk. Namun, lihatlah ke depan. Tuhan telah menganugerahkan pemandangan yang indah kepada kita. Saya berharap kalian bisa bersyukur apa yang telah Tuhan sediakan bagi kita di dunia ini.

Krisanis, terkadang kitalah yang tidak bersyukur akan pemberian Tuhan. “Sekarang, marilah kita bernyanyi untuk memuji Tuhan dan berterima kasih ke Tuhan untuk segala yang Dia berikan kepada kita.” Kata kakak pembina dengan lantang dan bersemangat. Setelah menyadari bahwa benar yang dikatakan kakak pembinanya, maka saya sangat bersyukur karena masih bisa melihat indahnya ciptaan Tuhan. Biasanya saya hiking bertujuan untuk hiburan, berfoto-foto, dan healing, kini  sangat berbeda. Saya bisa melihat indahnya pepohonan yang hijau, langit-langit yang biru, dan juga matahari yang perlahan-lahan muncul.

Bertemu orang banyak, berbincang tentang masalah meraka yang sedang mereka alami, belajar untuk bersahabat dengan diri-sendiri, memahami orang lain, dan bersyukur kepada Tuhan bahwa kita telah diberikan kebebasan untuk melakukan semua hal. Apapun yang kita lakukan dan apapun yang kita pikirkan, Tuhan semua tahu. Namun, Dia sangat berharap untuk melibatkan-Nya di setiap kegiatan kita. Semoga cerita ini bisa mengubah pola pikir kita semua dan menyadari bahwa Tuhan itu baik dan tidak akan pernah berubah. Tetap bersyukur dan semangat, Krisanis!

(Kontributor: Nadia Novelina Kristanti, Siswi XII IPS 3, SMA Santa Maria Surabaya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here