Surabaya, Krisanonline.com – Krisanis, cerita saya ini sebenarnya sebuah memori tiga tahun lalu, jauh sebelum mewabahnya pandemi Covid-49. Begini, kebetulan saya memiliki seorang teman yang tinggal di dekat Kedoya, Jakarta. Ceritanya, setiap pagi dia selalu melewati daerah itu, bila ingin pergi ke kantornya. Suatu hari di sebuah pertigaan Kedoya, tepatnya di hari Senin pagi nan cerah, dia melihat ada yang tidak biasa. Apa itu? Ya, sebuah pemandangan gerobak makanan baru. Gerobak dengan spanduk yang kainnya berwarna biru bertuliskan “Batagor Bandung Super Duper Uenak.”

Nah, sebagai penggemar Batagor, yang memang karena asli kelahirannya berasal dari Bandung sana, teman saya sekelebat melirik. Namun, hanya melirik saja. Tidak sempat berpikir macam-macam. Bukan apa-apa, karena memang pusat perhatian sudah cukup tersita dengan persoalan macet.

Hari Kedua, dia lewat Kedoya lagi. Masih tetap melirik gerobak batagor itu.  Namun, kini lebih agak lama karena dia mulai melihat ada antrean pembeli batagor. Setelah itu, kembali lewat seperti biasa. Hari ketiga, dia lewat daerah itu lagi. Masih melirik, tapi kali ini sambil mikir. “Ohh… ternyata yang berjualan seorang ibu yang dibantu oleh seorang anak laki-laki.” Terlihat ibu itu sibuk melayani pembeli.

Hari Kamis dan Jumat, teman saya mulai galau karena terlihat banyak antrean mendatangi gerobak batagor itu. “Beli enggak. Beli enggak. Beli enggak. Akhirnya, tetap enggak beli dan dia tetap memutuskan lewat begitu saja.” Hari berikutnya di akhir weekend, dia mulai penasaran dan sudah merencanakan, sejak jam 06.00 Wib akan membeli batagor itu. Ketika lewat di daerah itu kembali, dia mulai memarkirkan mobilnya ke tepian jalan. Tak jauh dari gerobak batagor. Selepas itu, bergegas memesan dua bungkus batagor dengan pesanan rasa pedas.

Si ibu penjual batagor tampak senang melihat teman saya itu. Mungkin karena customer baru pikirnya. Ketika teman saya meminta sendok ke ibu supaya tidak repot nanti memakannya, si ibu mengatakan, ”Mbak, sendok plastiknya habis.” Lalu, si ibu tanpa berpikir panjang menyodorkan sendok logam dan langsung memasukkannya ke dalam plastik putih bersama dua bungkus batagor yang telah dipesan. Teman saya langsung mengatakan, “Lho, ini kan sendok Ibu!” Si ibu tersenyum dan menjawab,”Enggak apa-apa, Mbak. Sendoknya bisa dikembalikan nanti, kalau Mbak mampir ke sini lagi.” Teman saya terkejut dan tersenyum sembari mengucapkan terima kasih atas kebaikannya.

Nah, Krisanis sekelumit cerita di atas kalau dicermati merupakan sebuah proses branding dalam marketing. Proses branding merupakan sebuah upaya membentuk citra dan rasa keterikatan secara emosional antara customer dengan brand  tentang produk atau jasa layanan yang digunakannya. Kegiatan branding bisa juga sebagai upaya untuk membedakan diri dengan pesaing lain (diferensiasi) dan bisa menjadi self disruption. Proses branding merupakan salah satu faktor yang cukup signifikan bagi customer dalam memutuskan membeli sesuatu atau menggunakan jasa layanan tertentu.

Krisanis, proses branding itu sendiri, sebenarnya merupakan sebuah metode marketing komunikasi. Sebuah brand yang kuat harus mampu menyampaikan manfaatnya secara jelas kepada customer. Saat customer menggunakan brand tentang produk atau jasa layanan kita, maka mereka berharap bahwa brand kita pun akan mampu memberikan solusi bagi permasalahan yang mereka hadapi. Oleh karena itu, saat membangun brand, kita harus menentukannya di muka. Artinya, pesan apa yang ingin disampaikan kepada customer saat mereka menggunakan produk atau jasa layanan yang kita tawarkan itu harus jelas.

Nah, kembali ke cerita di atas, di kantor saat teman saya dengan happy menikmati sarapan pagi batagor kesukaannya, teman saya sempat memikirkan si ibu penjual batagor tadi. Pendeknya, dia sangat mengagumi caranya yang cerdas dan kreatif dalam berjualan batagor dan keramahannya melayani customer.

Krisanis, bila ini dikaitkan kembali dengan konsep marketing sekolah tentang bagaimana strategi kunci mendapatkan siswa baru secara mudah, inilah yang disebut dari future customer (konsumen beli nanti) menjadi now customer (konsumen beli sekarang). Tak tanggung-tanggung, ternyata now customer pun langsung bisa diikat menjadi repeat customer (baca: langganan) gara-gara sebuah “sendok” dan tentunya rasa batagornya yang enak.

Dalam teori marketing komunikasi, inilah yang disebut dengan emotional branding yang saat ini menjadi tren dan menjadi strategi kunci masa depan marketing di sekolah atau kampus, terkhusus pada sekolah/kampus swasta. Sekolah-sekolah swasta (TK-SMA) dan kampus-kampus swasta (PTS) wajib mulai sekarang harus mampu memanfaatkan strategi kunci ini untuk mendapatkan siswa/mahasiswa baru secara lebih mudah. Upsss…bagaimana caranya?

(*Kontributor: F.X. Rudy Prasetya, S.S., M.Med.Kom., Master Media dan Komunikasi Universitas Airlangga, Trainer Marketing Sekolah/Kampus Berpengalaman)

Dapatkan jawaban artikel di atas pada kegiatan training marketing sekolah yang bersifat taktis dan bukan teoritis. Setiap peserta akan mendapatkan kesempatan untuk berinteraksi secara aktif dengan materi-materi yang menarik seputar:

  1. What is emotional branding?
  2. Why is emotional branding important for a successful marketing school strategy?
  3. How to communicate in the emotional branding strategy?
  4. How can a school accomodate the emotional branding strategy into its school marketing?
  5. What are the advantages of adopting the emotional branding strategy? 
  6. Case studies: Examples of school with emotional branding strategy?

Contact person: 082328801527 (Rudy)

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here