Surabaya, Krisanonline.com- Tibalah hari perpisahan. Kelas Jihan mewakilkan Joshua yang akan mempersembahkan satu lagu ciptaannya. Aku bisa melihat sorot mata Jihan. Sorot mata penuh cinta. Sepertinya Jihan menyukai Joshua. Hei, tangan Joshua terlihat keren! Ia mulai memetik gitar. Dan, mungkin bukan hanya Jihan yang menyukai Joshua. Akupun menyukai tangannya. Aku rasa, aku ingin menggegam sela-sela jemari itu. Aku yakin Jihan pun menginginkan hal itu. DAG! DIG! DUG! Baru kali ini aku merasakan detak jantung Jihan berirama begitu cepat ketika melihat seseorang. Dan aku yakin, dugaanku takkan salah. Jihan jatuh hati pada Joshua. Joshua menyiapkan gitar yang dari tadi digenggamnya. Mengecek suara. Dan ia mulai bernyanyi.

Senyummu indahkan duniaku. Mata indahmu pancarkan cinta. Alismu adalah goresan terindah. Bibirmu sebut namaku. Buat jantungku berdegup tak karuan.Dan bukan hanya wajah yang membuat aku terpana. Bukan hanya kejelitaan wajah yang Dia berikan Juga hati yang tak semena-mena. Beribu ketulusan yang kau tunjukkan. Membuat aku terpesona. Dan bukan hanya wajah yang membuaiku. Tapi karna kesempurnaanmu. Ketulusan hatimu. Semua itu….Dirimu membuat aku jatuh hati padamu. Dan bukan hanya wajah, Yang membuatku jatuh hati.

Penampilan yang memukau itu hanya berdurasi 3 menit. Sungguh terlalu sebentar. Aku ingin lama melihat tangan itu memetik gitar. Tangan itu memegang gitar seolah memetik impian. Sama seperti Jihan melihat gunting rambut sebagai impiannya.

“Untuk kesuksesan kita malam ini, yang takkan pernah terganti, high fiveeee,” pandu Dito sang ketua kelas sambil mengedepankan tangan disusul dengan teman-teman sekelas.

“Siapa kita teman-teman?” teriak Abi.

“Sahabat,” jawab Faizal.

“Keluarga,” tandas Salsa.

“Penyemangat wuuu,” kicau Jon.

“U….. Yeah…” tos kegembiraan membahana di pesta perpisahan. Dengan senyum puas, Jihan melepaskanku dari tumpukan tangan yang lain. Sampai ku sadari bahwa, tangan Josh memelukku, hangat.

“Mimpi itu kadang sesederhana tos, ya, Han. Sebelum tos kita mengumpulkan tangan di bawah. Fase yang sama ketika kita menanamkan mimpi ke dalam hati dan pikiran kita. Menancap sampai ke lapisan paling bawah. Lalu kita akan mengangkat tangan ke atas dengan semangat kalo kita pasti bisa mencapai impian itu. Menggenggam semua impian bersamaan dengan mereka yang berani bermimpi. Mereka yang berani bertaruh dalam hidupnya. Bukan hanya kamu saja yang pernah takut bermimpi,” jemari Josh perlahan merasukiku.

“Karena itu…”

“Karena itu lebih baik bersama daripada sendiri, iya kan? Aku rasa juga begitu. Mimpi memang kelihatan sepele bagi kehidupan. Tapi, tanpa mimpi, aku tidak akan mempunyai tujuan. Tanpa tujuan aku tidak akan punya semangat. Tanpa semangat aku tidak merasa hidup dalam duniaku. Terima kasih telah membuat aku sadar bahwa mimpi tidak bersyarat. Bahwa mimpi adalah surat kewajiban bagi setiap orang.” Aww! Akhirnya Jihan mempererat jarak antara aku dan jemari Joshua. Akhirnya, ada akhir yang indah.

“Jrenggg mimpi adalah kunci untuk kita menaklukkan duniaaaaaa.. Menarilah dan terus tertawa walau dunia tak seindah surga.” Oh, tidak jangan mulai lagi Lei. Jangan sekarang….Yak, terlambat. Tubuhku sekarang berpindah di tangan Jessica.

“Leeeeeeeeeeeeiiiiii, kaaaaaammmmmuuuuuuuu……” Tangan Joshua yang tadi menggegamku berubah menjadi cekikan gemas ke leher Lei.

“Haha, bukannya mimpi harus berubah jadi, nyata ya, Bos?” Alibi Lei sembari tetap memetik senar gitar.

“Nyata sih nyata, tapi harus tepat pada waktunya, Lei,” tukas Jihan lantang.

“Dan waktu yang tepat bukan ada di saat dua orang sedang bergandeng tangan,” lanjut Jessica. Kali ini aku setuju dengan ucapannya. Setiap orang bisa berbuat salah, tapi Jessica yang kini berucap, sangat beda dengan Jessica dua bulan yang lalu.

“Jrenggg… Sepanjang jalan kenangan, kita akan selalu bergandeng tangan. Sepanjang jalan kenangan,” Nyanyian spontan kembali terucap. Kali ini bersama segenap impian, Jihan menyatukan aku dengan teman-temannya. Mengayunkan aku setinggi-tingginya. Bernyanyi sekeras-kerasnya. Karena setelah ini, jalan kenangan akan bercabang. Ada yang memilih ke kiri, kanan, serong kanan, serong kiri atau lurus. Perpisahan dalam menggapai meraih impian. Setelah sukses, aku akan bersua lagi dengan tangan-tangan yang tadi. Bertemu di jalan kenangan yang sama dengan hari ini.

Suatu hari nanti, pasti.

(Kontributor: Aurelia Vania Diastari, Alumni SMA Santa Maria)

Ilustrasi gambar etalase: www.google.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here