Surabaya,KrisanOnline.com- Jika aku bukan jalanmu, ku berhenti mengharapkanmu. Jika aku memang tercipta untukmu, ku kan memilikimu. (Afgan/Jodoh pasti bertemu)

                                     *           *           *           *

Pagi baru saja menjelang. Namun, aku sudah bekerja keras. Padahal  matahari belum menunjukkan sinarnya dan embun pagi masih sibuk menetes. Tapi, apa yang sedangku lakukan? Mengucek segunung pakaian. Terkadang, aku harus merasakan panas saat pertama kali mencelup pakaian dan bekerja ekstra saat noda bandel betah di pakaian-pakaian ini.

“Nak, cepatlah mandi. Bergegaslah ke surge Citra Bangsa.”

Setelah selesai mencuci, aku bersihkan tubuhku dan segera menutupinya dengan selembar pakaian. Ah, cairan apalagi ini? Kutempelkan pada musuh bebuyutanku. Wajah. Mengapa hanya wajah saja yang Jihan rawat? Sedangkan aku dan anggota yang lain harus bekerja keras?

***

“Eh, si tukang cuci datang. Bau detergen, ya? Kamu mandi pake sabun cuci ato sabun batang tuh? Salah ambil ya? Hahaha…” sindir Jessica.

“Aku … Aku … Keluargaku memang butuh kertas bernilaikan rupiah lebih banyak untuk kebutuhan sekolahku. Aku mau turut membanting tulang. Tidak seperti kalian yang tinggal menengadahkan tangan.”

“Seberapa jelita wajahmu sampai berani berkata demikian? Aku itu bagaikan susu. Dan kulitmu bagaikan biji kopi. Hitam legam. Tak pantas, juga bibir tak berwarnamu itu berargumen dengan bibir merahku!”

Tes. Setetes air mata menjatuhi tubuhku. Basah. Aku mengusap mata dan pipi Jihan. Sempat aku melihat sinar matanya yang… Entah bagaimana aku menjelaskannya. Sorot kerapuhan dari jiwa yang tegar.

Tak sekali ini Jessie melontarkan tombaknya. Sudah berkali-kali ia melakukan itu. Mungkin sudah menjadi candu. Dia selalu beranggapan bahwa hanya cewek cantik dan cowok tampan yang boleh menyanggah perkataannya. Aku benci pada suara cempreng itu. Benci saat dia merendahkan Jihan. Apa dia tak sadar, bukan hanya wajah yang membuatnya tetap hidup?

***

“Bu, Jihan berangkat dulu. Hari ini ada tugas piket, jadi Jihan harus berangkat lebih awal.’

Apa? Memeluk mesra sapu lagi? Kapan aku memeluk ruas jari seseorang? Selalu alat-alat kebersihan yang kupegang.

Sesampainya di sekolah, aku melihat sebuah tangan laki-laki sudah memeluk mesra si sapu. Yes! Gak meluk sapu lagi, teriakku dalam hati. Terpisah dari ekspresiku, Jihan kaget melihat pemandangan ini.Dengan headphone terpasang di telinga, Joshua terlihat mengikuti irama musik dari dalam sakunya. Keanehan semakin menjadi, tatkala Jessica masuk dengan muka tertutup tas. Mana wajah pongah yang biasa ia pamerkan?

“Jess, kamu kenapa?” tanganku mengelus bahu Jessica. Bahunya masih bergetar. Pertanda banjir air mata belum sepenuhnya selesai. Jihan membiarkanku menenangkan dia. Ia membuka tas yang menutupinya secara perlahan. Poni belah kanan Jessica yang biasa terpampang rapi berubah.

“Aku merasa kalau aku perlu berteman dengan mereka-mereka yang cantik, agar aku bisa selalu tampil cantik. Nyatanya, saat kemarin kami ke salon bersama, poniku terpotong dengan tidak sempurna. Bukannya memberikan solusi, mereka malah menertawakanku. Persahabatan selama ini semu, Han.” Sorot mata sedih terpancar lagi.

“Gimana kalau aku rapikan rambutmu? Aku bawa gunting rambut. Aku bisa melakukan itu, kok. Buat penghasilan tambahan kadang aku menawarkan jasa potong rambut.” Tak disangka-sangka, Jessica setuju. Setelah mengambil gunting, ia menggunting rambut Jessica di teras kelas.

“Cari sesuatu yang sejati Jess. Kita gak akan hidup dalam kesemuan. Belum terlambat untuk berubah kok.” Senyum lembut Jihan perlahan membuat Jessica tersenyum. Setelah selesai memotong dan membersihkan sisa-sisa rambut, mereka kembali ke kelas.

“Jangan pernah kau coba untuk berubah. Tak rela yang indah hilanglah sudah. Jangan,” Suara khas Lei memenuhi kelas. Uuh, dia kok hobi banget menyambungkan kata yang dia dengar dengan lagu. Suaranya emang pas sih. Pas kalau disuruh diam, hehehe.

“Jangan nyanyi. Daripada nyanyi, mendingan bantuin aku nyapu deh.” Joshua menyodorkan sapu bertangkai biru. “Hari ini kamu gak perlu piket Han. Aku datang kepagian. Jadi, daripada gak ada kerjaan, nyapu aja, sekalian olahraga. By the way, potongan karya kamu bagus juga.” Senyum simpul terbit dari wajahnya.

“Iya, terima…” Belum sempat Jihan menyelesaikan kalimatnya, Lei menyambung, “Terima kasih cinta untuk segalanya. Kau berikan lagi kesempatan itu…”

KRIIIING! Bel tanda masuk berdering. Tanda pelajaran bimbingan konseling akan segera dimulai. “Kesempatan mulai pelajaran, ya Lei? Haha.” Sepertinya seorang Jessica yang dulu sombong, kini sudah berubah menjadi ramah. Syukurlah, takkan ada lagi yang membuat Jihan menangis.

“Anak-anak, sebentar lagi kalian lulus. Saya ingin tau apa yang mimpi kalian. Silahkan cerita di depan kelas. Mulai dari, Lei.” Bu Yuri mempersilahkan Lei maju.

“Mimpi saya menjadi seorang musisi yang bisa membuat banyak orang tertawa. Saya ingin berbagi kegembiraan dengan nyanyian.”

“Bagus, Lei. Cita-cita yang mulia, asalkan suaramu tidak dipraktikkan di kelas. Silahkan Amelia, lalu dilanjutkan dengan Christo.” Satu persatu teman-teman Jihan maju. Hingga giliran, Jihan yang dipanggil.

“Saya tidak tahu apa yang saya impikan. Karena kondisi ekonomi keluarga saya membuat saya harus fokus pada pekerjaan saya hari ini. Saya juga takut kalau saya bermimpi terlalu tinggi, saya tidak bisa mencapainya. Jadi, lebih baik saya tidak punya mimpi.” Seusai mengatakan pendapatnya, Bu Yuri mengingatkan kami untuk mengisi acara perpisahan. Tanpa ditunjuk, Joshua mengangkat tangan. Kesepakatan terbentuk beriringan dengan bunyi bel istirahat.

Kondisi kantin yang penuh sesak membuat Jihan tak pernah nyaman. Setiap kali istirahat, ia selalu menikmati makanan atau sekadar udara segar di taman belakang sekolah. Tak disangka, ada orang lain hari ini di sana.

“Eh, Josh. Ngapain kamu di sini?” Jihan heran karena jarang sekali orang yang istirahat di tempat ini.

“Nyoba suasana baru aja sih. Ternyata enak juga di sini.” Angin semilir di sini memang sejuk. Merilekskan pikiran yang terjejal materi-materi. “Jihan, kamu gak punya impian?”

DEG DEG DEG! Ku rasakan denyut nadi Jihan berdenyut lebih kencang. Lalu dengan terbata Jihan menjawab, “A..A..Aku punya impian kalau suatu hari nanti aku akan punya salon sendiri. Tapi, aku takut itu tidak terwujud. Jadi lebih baik aku tidak bermimpi, kan?”

“Setiap orang harus punya mimpi sebagai dasar hidup mereka Jihan. Mimpi adalah pertaruhan. Kamu bilang karena kondisi ekonomi? Lalu, apa orang-orang sukses dari kalangan bawah itu hanya ilusi? Mereka yang secara fisik berkekurangan juga ilusi? Mereka nyata Jihan. Mereka punya mimpi, berani bermimpi dan berusaha mewujudkan mimpi tersebut.” Dalam hati Jihan membenarkan kata-kata tersebut. (Tamat)

(Kontributor: Aurelia Vania Diastari, Alumni SMA Santa Maria)

Ilustrasi gambar etalase: www.google.com

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here