“Koraaaannnn!!”

Mataku berbinar mendengar suara yang riang dan penuh semangat itu. Segera kulupakan bekas teriakan-teriakan ayahku yang masih bergema dikepalaku dan membuka pintu depan.Bocah kecil itu melambaikan tangannya dengan senyum lebar yang menghiasi wajahnya untukku. Rasa kecewa, sedih, takut, dan marahku lenyap. Hanya dengan kehadiran seorang anak berumur 10 tahun yang kutemui setiap pagi dengan setumpuk koran yang diikat di kursi belakang sepedanya.

“Dodi nggak telat bangun lagi?” kataku sambil berjalan mendekatinya.

 “Nggak dong, kak! Biar kak Sera nggak marah lagi,” katanya sambil menunjuk ke arah kantor percetakan koran yang sebenarnya cukup jauh dari rumahku.

Sudah 2 tahun lebih Dodi mengantar koran untukku dan tetangga-tetanggaku. Keluarga Dodi kurang berkecukupan dan sebagai anak teladan, ia membantu mencari nafkah dengan bekerja sebagai loper koran. Meskipun kelihatannya hidup bocah yang 8 tahun lebih muda dariku itu susah, tapi dialah yang selalu bisa menghiburku ketika kepalaku pening karena teriakan-teriakan, umpatan-umpatan, serta aroma alkohol yang berasal dari ayahku.

Hampir setiap hari Dodi datang mengirim koran dengan keadaanku yang lemas, pucat, dan tak bersemangat. Tidak sepertinya yang setiap hari dalam keadaan yang bertolak belakang denganku. Dan dia selalu berhasil menghiburku dan membuatku tersenyum. Aku selalu menganggapnya seperti adikku sendiri dan Dodi pun menganggapku sebagai kakaknya sendiri. Sekali, ia bahkan menunda sedikit waktunya mengirim koran untuk membeli plester untukku setelah melihat aku terluka berdarah karena bertengkar dengan ayahku. Dia juga pernah memberiku permen ketika aku hendak berangkat sekolah dengan kantong mata hitam. Ia selalu ada untukku untuk membagi senyumnya dan kata-kata polosnya padaku. Aku tidak pernah lelah bertemu dengannya. Adikku!

Suatu pagi, aku duduk di teras rumah tanpa pagar itu menunggu Dodi mengirim koran. Namun, justru suara mesin mobil yang kudengar sedang mendekati rumah. Raut wajahku menjadi pahit ketika melihat ayah keluar dari mobil dengan baju berantakan, muka merah, dan berjalan tidak stabil. Ia sering sekali pulang pagi dengan keadaan seperti itu. Selalu. Tak lama kemudian, ia akan mulai memarahiku dengan alasan tidak jelas.  Mengatakan kata-kata umpatan yang tak perlu. Namun, hari ini lebih parah, ia bahkan menghempaskan kakinya ke arah pot punga. Pot bunga itu hancur dan mengeluarkan tanah dan bunga matahari sehingga tergeletak di tanah bersemen. Aku hanya bisa menghela napas. Aku pun berlutut dan mulai mengumpulkan tanah dan bunga itu untuk dipindahkan ke tempat lain. Sebuah tangan meraih bunga itu juga. Dodi lalu tersenyum dan membantuku memindahkan tanaman bunga matahari itu ke pot yang kosong.

“Jangan sedih lagi ya, Kak. Mungkin ayah kakak sedang ada masalah di tempat kerjanya,” katanya dengan polos lalu menjulurkan koran ke arahku. Aku hanya bisa tersenyum karena ia tidak mungkin mengerti keadaanku.

Keesokan harinya, aku bangun mendengar ayahku sedang berbicara di luar rumah. Aku melihat ayahku dan Dodi sedang bercakap-cakap di teras depan rumah. Sebelum aku keluar dari pintu depan, ayahku tiba-tiba saja mengatakan bahwa ia berhenti berlangganan koran. Ohh…my God! (Bersambung)

(Kontributor: Cynthia Melinda, Siswi  XII IPA 1, SMA Santa Maria Surabaya)

Ilustrasi gambar: www.google.com

BAGIKAN
Berita sebelumyaAkhir …
Berita berikutnyaFakta Keren KrisanOnline

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here