Sang pianis memainkan lagu yang berbeda, lagu yang terdengar begitu melankolis dan indah di telingaku. Dibandingkan lagu yang pertama, lagu ini jauh lebih lembut dan lambat. Aku dapat merasakan hatinya, merasakan perasaannya yang begitu lembut dan halus di setiap nada yang ia mainkan. Permainannya memberikan kesan bahwa ia sedang mencurahkan seluruh hatinya dalam lagu yang ia mainkan. Kututup mataku perlahan, sebuah gerakan yang tentunya tidak akan mengubah apapun.

Dari kecil, aku selalu menyukai musik, terutama musik klasik. Musik adalah satu-satunya hal yang dapat kunikmati sepenuhnya tanpa pengelihatan pun. Seketika, kegelapan yang seharusnya terasa akrab di mataku berubah menjadi sesuatu yang begitu asing. Lantunan melodi yang memenuhi telingaku begitu vibran, begitu berwarna. Jika kuberkata bahwa aku telah menemukan definisi warna dalam setiap melodi yang mengalun di lagu ini, tidak akan ada yang percaya. Tetapi, itulah yang kurasa, itulah yang kulihat. Lagu ini berbeda dari lagu-lagu lainnya yang pernah kudengar. Semua aspek dalam lagu ini dimainkan dengan begitu tulusnya, begitu indahnya. Lagu tersebut diakhiri dengan indah, mengundang kembali kesunyian.

Kubuka mataku. Kegelapan kembali menyambutku, kegelapan yang kutahu tidak akan pernah meninggalkanku, ditemani oleh sunyi yang membawa sesak. Kekecewaan melanda ketika suara piano yang tadinya membanjiri lorong kembali ditelan kesenyapan.

“Hei.” Sebuah suara memanggil dari dalam ruangan. Aku membeku, jantung berdegup keras. “Aku udah lihat kamu, jadi kamu gak perlu sembunyi-sembunyi lagi.” Suara tersebut mengulang, dalam dan serak. Aku mematung di depan pintu, terkejut.

“Masuk aja,” ujar suara itu, dingin. Bingung, aku memutar kenop pintu dihadapanku dan melangkah masuk ke ruangan tersebut. Aku berdiri dengan canggung, membelakangi pintu. Entah mengapa aku memilih untuk mengikuti perkataan suara tersebut dengan patuh. Kesunyian memenuhi ruangan, membuatku mengira akulah satu-satunya orang di ruangan tersebut.

“Gimana?” Suara tersebut berkata, lebih lembut kali ini. “Gimana apanya?” tanyaku bingung. “Gimana permainan pianoku?” Suaranya dalam dan terdengar begitu jelas di telingaku. Pertanyaan tersebut mengejutkanku. Aku membuka mulutku untuk menjawab, namun tidak ada sepatah kata pun yang dapat kulontarkan. Tak kutemukan satu kata pun yang dapat mendeskripsikan permainannya yang begitu indah.

“Sebagus itukah permainanku? Sampai kamu tidak dapat berkata-kata?” Suara tersebut tiba-tiba terdengar ringan dan aku bisa membayangkan senyum yang merekah di bibir pemilik suara tersebut. Ia benar-benar membacaku. Aku mengangguk, degup jantungku melambat. Suara tersebut tertawa, tawa hangat yang memenuhi ruangan seketika. “Atau kamu terkejut seorang cowok seperti aku bisa main piano seperti itu?” Candanya lagi. Aku menggeleng. Suara tersebut diam untuk sementara, aku mendengar langkah kaki dan suara piano menutup.

“Kamu sudah selesai main?” tanyaku canggung, kekecewaan terdengar dalam suaraku.
“Ini sudah jam berapa? Kamu mau aku tetap di sekolah sampai malam? Aku mau pulang.” ujarnya datar. Aku membisu, canggung. Aku tetap berdiri seperti patung di dekat pintu, merasakan langkah kaki yang ringan mendekatiku.

“Aku main setiap hari kok. Jadi kalau kamu mau, kamu bisa datang lagi besok. Mungkin aku bisa mengajarimu cara bermain pula.” Ia berkata, mengejutkanku. Aku dapat merasakannya berdiri dihadapanku. Ini pertama kalinya seseorang menawarkan diri untuk mengajarkanku cara bermain alat musik. Tawaran seperti ini tidak pernah kujumpai sebelumnya. Siapa sih yang mau mengambil tanggung jawab untuk mengajarkan seorang tuna netra bermain piano? Aku terkesiap.
“Aku tidak keberatan kok.” Suara tersebut meyakinkanku dengan hangat. (bersambung)

(Kontributor: Lindawati Wijoyo, Alumni Siswi XII IPA 4, SMA Santa Maria Surabaya)

Ilustrasi gambar: www.google.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here