Surabaya, Krisanonline.com – Krisanis, nama lengkap saya Dylan Nicholas TanBiasa saya dipanggil Nicho. Ketika SMP saya menempuh pendidikan di salah satu SMP swasta di Surabaya. Sebelum perpisahan, saya dan teman – teman  merecanakan  untuk pergi ke daerah perbatasan Jawa Timur dan Jawa Tengah, yaitu di Magetan, Sarangan. Kami berencana  menginap 3 hari 2 malam.

Akhirnya, berangkatlah kami ke Sarangan. Sesampainya, kami langsung menuju ke tempat penginapan. Kami merasa kalau tempat yang kamu tinggali ini kok sedikit menyeramkan. Di sore harinya kami turun ke danau Sarangan untuk melihat pemandangan sekitar. Ketika waktu makan malam tiba, kami langsung naik ke villa.

Rasa takut pun datang kembali karena terdapat sekelompok orang yang memancarkan senter ke arah kami dan menatap kami. Beberapa teman saya pun sempat berteriak dan bersiul untuk mencoba berkomunikasi dengan sekelompok orang tersebut. Oleh karena kami adalah orang-orang pemberani, jadi kami hanya berpura – pura tidak terjadi sesuatu. Ketika jam sudah semakin malam, kami memutuskan untuk beristirahat.

Di pagi hari kami pergi ke Air Terjun Grojogan Sewu. Namun, salah satu teman tidak ingin turun ke sungai. Nah, otomatis dia yang harus menjaga tas kami semua. Ketika kami bermain air bersama, tiba-tiba teman kami ini dikeroyok oleh sekumpulan monyet. Spontan dia berteriak keras. Kami pun langsung menghampirinya.

Monyet-monyet tersebut ternyata membuka tas saya dan mengambil kaca mata. Kami pun langsung membantu mencari kaca mata teman kami yang dicuri itu. Untungnya, kami menemukan kaca mata teman kami di sekitar semak – semak.

Di sore hari kami turun ke danau untuk melihat matahari terbenam. Kami juga membeli kembang api untuk memeriahkan suasana malam hari. Kami juga mengadakan barbecue untuk acara makan malam. Sembari makan beberapa teman saya melakukan siaran langsung di aplikasi sosial media miliknya.

Di pagi hari, kami menyempatkan diri untuk turun ke danau dengan tujuan berpisah dengan kota kaki gunung ini. Tak lama kemudian kami langsung naik kembali ketika sudah dijemput untuk kembali pulang ke Surabaya.

Di stasiun kami langsung naik kereta yang mengantar kami pulang.Di kereta saya hanya tertidur hingga sampai di Surabaya. Kami pun langsung kembali ke rumah masing – masing untuk bertemu kedua orangtua yang kami cintai. Dari perjalanan yang saya lakukan ini saya merasa bahwa sikap kekeluargaan dan kebersamaan itu sangatlah penting karena dari situ kami dapat berbahagia  bersama, tanpa harus membedakan satu sama lain.

(Kontributor: Dylan Nicholas Tan, Siswa X MIPA 3, SMA Santa Maria Surabaya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here