Surabaya, Krisanonline.com-Krisanis, bila kamu berada di suatu perlombaan cerdas cermat, tim seperti apakah yang kamu pilih? Tentu kamu akan memilih tim yang terbukti kepintarannya daripada tim yang berisi siswa yang kemampuannya biasa saja, bukan? Jika demikian, maka kamu akan mempertanyakan pilihan yang saya buat kala itu.

Sebenarnya, dalam seleksi yang diadakan sekolah, saya tidak terpilih menjadi anggota tim. Sepulang sekolah, tiba-tiba saya mempertanyakan kemampuan saya, saya larut dalam kesedihan selama beberapa lama sampai saya benar-benar kecewa rasanya. Namun, ternyata guru-guru memberikan saya kesempatan berada dalam tim A yang berisi siswa yang sudah teruji kepintarannya. Lucunya, saya malah menolak tawaran itu dan memilih tim B.

Saya memilih untuk memulainya dari nol karena saya ingin berjuang bersama. Tentu saja tak mudah, tapi kami berhasil melewati semua proses tersebut dengan diselingi canda tawa serta rasa gugup bersama. Banyak kejadian lucu hingga menegangkan yang terjadi selama prosesnya. Namun, kami tidak menyerah. Lelah dan penat adalah hal yang biasa bagi kami karena jalan itulah yang kami pilih.

Saat lomba tiba perasaan gugup serta takut kami rasakan. Kami ragu pada kemampuan kami sendiri, terlebih lagi saya menjadi juru bicara selama perlombaan. Namun, kami harus melanjutkan perlombaan dan membuktikan bahwa kami bisa melewatinya bersama. Di babak penyisihan, banyak kesalahan terus kami lakukan. Entah karena gugup atau kami terlalu tergesa-gesa, tapi syukurlah kami masih berkesempatan untuk sampai di tahap final.

Menariknya, akhirnya kami berhadapan dengan tim sekolah kami sendiri. Rasanya mustahil untuk mengalahkan mereka, tapi saya meyakinkan teman-teman saya bahwa apapun hasilnya, semuanya akan kami lalui bersama. Benar saja, soal demi soal kami jawab dengan benar, meskipun tak luput dari kesalahan.

Dan….hasilnya adalah seri! Pyuuhhhh… tegang sekali rasanya.Perlombaan ditutup dengan soal tambahan. Namun, karena kami sedikit terlambat menekan tombol, kami pun kalah dan menjadi juara kedua. Rasa kecewa tapi bercampur bahagia kami rasakan. Namun, kami bangga dengan apa yang kami capai. Meskipun bermula dari banyak orang yang meragukan kami. Sekali lagi, ini bukan tentang sebuah hasil, tapi ini tentang makna sebuah perjuangan.

(Kontributor: Gevionita, Siswi X MIPA 2, SMA Santa Maria Surabaya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here