Surabaya,Krisanonline.com– Krisanis, perkenalkan nama saya Priscilla Grace Sulistyo, biasa dipanggil Grace. Saat saya kelas 9 SMP saya tergolong anak yang malas belajar. Meski saya tahu akan berhadapan dengan banyak ulangan seperti try out, ujian sekolah, dan puncaknya UN.

Nah, di kelas ada salah satu teman bernama Ella. Dia adalah anak yang sangat pintar. Saat itu saya berpikir bahwa dia pintar karena sudah dari sananya. Suatu hari saya ngobrol dengan Ella dan iseng-iseng bertanya,“Ella, kamu pintar itu les di mana?” Ella menjawab tegas kalau dia tidak les sama sekali.

Saat itu saya terkejut. Ella yang tidak les sama sekali saja selalu mendapat nilai di atas 90. Sementara, saya les seminggu 3 kali saja jarang mendapat nilai di atas 90. Mulai saat itu saya sadar bahwa pintar bukanlah bawaan dari sananya. Namun, pintar berasal dari seberapa besar kemauan dan ketekunan kita dalam belajar. Sejak saat itu saya terus memotivasi diri saya sendiri untuk belajar lebih giat belajar. Alhasil, saat lulus SMP saya mendapat nilai yang cukup memuaskan.

Saat masuk ke jenjang SMA, saya sudah bertekad untuk lebih rajin belajar daripada saat SMP. Namun, saya tidak memiliki waktu yang cukup untuk belajar. Saya sempat berencana untuk membeli papan tulis dan meja belajar untuk menambah motivasi dan semangat belajar saya. Saya memberitahu orangtua  dan mereka berjanji akan membelikannya saat weekend.

Namun, hal tidak terduga terjadi pada saudara saya, dia mengalami musibah. Akibatnya, orangtua menjadi sangat sibuk. Tak hanya itu, minggu depannya lagi orangtua pergi ke Semarang untuk mencari kos-kosan kakak. Mulai saat itu, saya sudah merasa kesal dan kecewa. Saya menjadi malas belajar lagi. Sebab, orangtua tidak menepati janjinya.

Lalu, saya cerita kepada teman. Dia menasihati saya. Katanya, jika kita berusaha lebih keras , maka Tuhan akan memberi cobaan yang lebih besar juga  pada kita. Oleh karena itu, kita harus bertahan dan kuat dengan segala cobaan itu. Kita harus bisa melewatinya. Jika kita bisa melewatinya, maka kita akan mendapat hasil yang memuaskan. Nah, sejak saat itu, saya akan lebih bersabar pada siapa saja, terkhusus pada orangtua saya dan mulai mencoba untuk belajar menerima apa adanya serta memahami orang lain pula.

(Kontributor: Priscilla Grace Sulistyo, Siswi X MIPA 3, SMA Santa Maria Surabaya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here