“Mine has been a life of much shame.  I can’t even guess my self

what it must be to live the life of a human being.”

 

(Milikku adalah kehidupan yang sangat memalukan. Saya bahkan tidak bisa menebak sendiri

apa yang harus dilakukan untuk menjalani kehidupan manusia)

― Osamu Dazai, No Longer Human

Surabaya, Krisanonline.com – Krisanis, perkenalkan nama saya Adeline Felicia Cuaca, biasa dipanggil Adel. Dulu, saya tipe orang berkepribadian Introvert. Hal ini menghalangi saya untuk berinteraksi ketika saya diterima sebagai siswi di salah satu SMP Negeri.Namun, saya merasa bahwa saya tidak bisa tetap diam seperti ini.“Saya harus memulai untuk membuka lembaran yang baru.” Itulah tekad saya. Pada akhirnya saya dapat berinteraksi dengan teman-teman baru, walaupun hanya teman satu kelas saja. Saya bisa merasakan bahwa betapa pentingnya memiliki seorang teman.

Namun, perjalanan hidup tidak akan selalu berjalan dengan mulus. Ketika saya duduk di bangku kelas VIII. Pertemanan kami mulai merenggang.  Bisa jadi, karena saya tidak bisa menjadi seperti apa yang mereka inginkan. Mungkin teman-teman di kelas tidak menyadarinya. Saya adalah orang yang selalu tersenyum. Namun, saya tidak merasa seperti itu. Oleh karena terkadang, tanpa disadari orang yang sering tersenyum adalah orang yang berusaha untuk menutupi “kesedihannya.” Saya mulai menutup diri pada orang-orang di sekitarku. Bahkan saudara maupun orangtua saya sendiri.Saya menghabiskan sebagian besar waktu saya di dalam kamar.Saya merasa inilah hidup yang sempurna saat saya tidak akan menyakiti ataupun disakiti.

Suatu hari melalui hobi membaca, saya tertarik dengan sebuah novel yang sangat terkenal pada tahun 1948 berjudul No Longer Human karya sastrawan Jepang, Dazai Osamu.  Isi buku tersebut menceritakan kisah yang tragis..Dari buku tersebut, saya merasa bhawa saya harus berubah. Saya juga mempunyai hobi suka menonton anime. Saya  banyak belajar untuk memulai pertemanan baru.Saya mencoba untuk memperbaiki persahabatan dengan siapa saja, hingga akhirnya sekarang bisa diterima siapa saja dan bisa menjalin pertemanan dengan baik.

Terima kasih Dazai Osamu. Berkatmu, kini saya bisa berdiri tegar sebagai siswi SMA Santa Maria Surabaya. Disinilah saya memulai membuka lembaran baru dan memulai jalan cerita yang baru. Memulai membuat pertemanan yang baru dcengan relasi-relasi baru.

 (Kontributor:  Adeline Felicia Cuaca, Siswi X MIPA 3, SMA Santa Maria Surabaya)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here