Surabaya, Krisanonline.com – Krisanis, pada masa pandemi ini, banyak ujian yang rasanya datang bertubi-tubi, seperti kehilangan orang yang dikasihi, masalah finansial yang semakin memburuk, tekanan dari sekolah atau kerja online, dan masih banyak lagi. Ujian-ujian itu terasa sangat membebani mental serta fisik kita. Efeknya, kita menjadi sering uring-uringan, mudah emosional, mudah lelah, dan masih banyak lagi. Hal ini tentu semakin membuat suasana diri di tengah pandemi semakin runyam.

Oleh karena itu, muncul banyak grup dukungan daring yang bertebaran di sosial media dengan harapan dapat membantu masyarakat untuk memperbaiki kondisi mentalnya di tengah masa pandemi. Selain itu, kemajuan teknologi yang signifikan terjadi pada masa ini. Sebagian besar kegiatan digerakan secara daring, seperti belanja, sekolah, kerja, pertemuan, dan masih banyak lagi. Jika ditinjau dari contoh barusan, tidak semua hal di masa pandemi terlihat buruk. Tuhan tidak mungkin memberikan ujian tanpa makna di dalamnya.

Belajar dari motto tahbisan Romo Heribert Ballhorn (Alm.) yang berisi: “Cukuplah kasih karunia-Ku kepadamu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna” (2 Kor 12:9). Kita harus sadar bahwa di tengah kelemahan sekalipun, Tuhan tidak akan meninggalkan kita. Tuhan selalu memberikan kita makna di dalam setiap kesulitan yang kita hadapi. Namun, hal ini jarang kita sadari. Kita seringkali terpusat pada masalah dan terus berkutat di dalamnya. Hal ini tentu sangat menguras energi kita, baik secara mental maupun fisik.

Romo Heri mengajarkan bahwa sebagai umat Tuhan, kita harus sadar bahwa untuk menjadi baik, pasti ada sebuah proses di dalamnya. Proses tersebut memang tidak selalu mengenakan. Kita harus merasakan jatuh bangun terlebih dahulu hingga akhirnya dapat bangkit dan menjadi kuat. Ibaratnya, seperti emas yang perlu ditempa dan melewati proses panjang berulang kali hingga menjadi perhiasan yang indah.

Akhir kata, kunci untuk terbebas dari keterpurukan yang melemahkan kita adalah resiliensi, di mana kita harus sadar bahwa di dalam sebuah masalah, Tuhan pasti selalu ada untuk menguatkan dan memberikan makna di dalamnya.

(Kontributor: Aloysia Ayfen Senjaya, Mahasiswa Semester 1, Fakultas Psikologi Universitas Airlangga)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here